politik adalah kendaraan untuk meraih kekuasaan. ketika seseorang ingin berkuasa maka sudah selayaknya mereka berpolitik. ketika berbicara kekuasaan maka ada yang menguasai dan ada yang dikuasai. subyek dan obyeknya semuanya adalah manusia. sehingga kalau ada orang yang ingin berkuasa atau menjadi penguasa mereka harus bisa menguasai manusia. pertanyaannya bagaiamana cara menguasai manusia?
untuk mengusai manusia maka harus ada dua pilar yang harus dikuasai yaitu Jiwa dan Raganya.
untuk menguasai raga biasanya menggunakan tindakan yang represif (kekerasan), seperti dipenjarakan, diborgol, dipukuli dan sebagainya. biasanya disebut dengan Repressive State Aparatus (RSA). hal ini pernah dilakukan oleh orde baru dimana banyak sekali korban baik yang meninggal pun yang dipenjara. dan rupanya ini juga sedang dilakukan oleh partai yang mengaku partai Islam, melalui organisasi yang bukan partai seperti FPI. kalau mau ditilik maka pertanyaan yang mendasar adalah siapa sebenarnya orang-orang dibalik FPI. jelas ini adalah orang-orang partai.
Sementara untuk menguasai Jiwa tentu saja dengan memasuki idealogi. untuk memasuki idealogi maka melalui media (baik tulis maupun lisan). hal ini juga pernah dilakukan pada zaman orde baru oleh penguasa Soeharto, dimana terjadinya pembredelan-pembredelan buku, dan buku yang boleh beredar hanya yang sudah melalui seleksi dari lembaga tertentu, bahkan dibidang keagamaan banyak kyai-kyai baru bermunculan, yang senagaja untuk menyebarkan idealogi untuk membenarkan apa kata penguasa.
dan dewasa ini pun kita sering menemukan buku-buku, majalah yang diedarkan oleh partai tertentu walaupun tidak secara langsung mengaku bahwa itu buku, majalah milik partai, tetapi jelas wacana yang disuguhkan bertujuan untuk mengamini idealogi partai atau golongan tertentu untuk meraih kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan.
jadi sudah jelas bahwa politik adalah politik yaitu alat untuk meraih kekuasaan. dan partai adalah kendaraannya. untuk itu mari kita tumpangi kendaraan tersebut. jangan sampai kita sebagai masyarakat menjadi roda partai atau bahkan selalu tergilas oleh roda partai dengan menthoughutkan partai, fanatik buta terhadap partai tertentu.
Ditengah maraknya pemilu akhir-akhir ini, mari kita cerdas bersama dengan mengedepankan figur, apapun partainya kalau figur yang diusung bejad, maka bejadlah negara ini.
Read More......
untuk mengusai manusia maka harus ada dua pilar yang harus dikuasai yaitu Jiwa dan Raganya.
untuk menguasai raga biasanya menggunakan tindakan yang represif (kekerasan), seperti dipenjarakan, diborgol, dipukuli dan sebagainya. biasanya disebut dengan Repressive State Aparatus (RSA). hal ini pernah dilakukan oleh orde baru dimana banyak sekali korban baik yang meninggal pun yang dipenjara. dan rupanya ini juga sedang dilakukan oleh partai yang mengaku partai Islam, melalui organisasi yang bukan partai seperti FPI. kalau mau ditilik maka pertanyaan yang mendasar adalah siapa sebenarnya orang-orang dibalik FPI. jelas ini adalah orang-orang partai.
Sementara untuk menguasai Jiwa tentu saja dengan memasuki idealogi. untuk memasuki idealogi maka melalui media (baik tulis maupun lisan). hal ini juga pernah dilakukan pada zaman orde baru oleh penguasa Soeharto, dimana terjadinya pembredelan-pembredelan buku, dan buku yang boleh beredar hanya yang sudah melalui seleksi dari lembaga tertentu, bahkan dibidang keagamaan banyak kyai-kyai baru bermunculan, yang senagaja untuk menyebarkan idealogi untuk membenarkan apa kata penguasa.
dan dewasa ini pun kita sering menemukan buku-buku, majalah yang diedarkan oleh partai tertentu walaupun tidak secara langsung mengaku bahwa itu buku, majalah milik partai, tetapi jelas wacana yang disuguhkan bertujuan untuk mengamini idealogi partai atau golongan tertentu untuk meraih kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan.
jadi sudah jelas bahwa politik adalah politik yaitu alat untuk meraih kekuasaan. dan partai adalah kendaraannya. untuk itu mari kita tumpangi kendaraan tersebut. jangan sampai kita sebagai masyarakat menjadi roda partai atau bahkan selalu tergilas oleh roda partai dengan menthoughutkan partai, fanatik buta terhadap partai tertentu.
Ditengah maraknya pemilu akhir-akhir ini, mari kita cerdas bersama dengan mengedepankan figur, apapun partainya kalau figur yang diusung bejad, maka bejadlah negara ini.






